Seperti di Bandung
I miss Bandung.
Hari ini, saat saya keluar rumah melangkah untuk membeli sesuatu di warung, perasaan kangen itu muncul lagi.
Karena suasananya, entah kenapa, seperti di sana.
Mendung, sejuk, dan betapa saya seperti di sana: keluar dengan sandal dan celana pendek dengan uang seadanya. Mengingatkan tahun-tahun terakhir yang begitu berkesan di sana.
Aku ingin menulis, berbicara, mengurai kata demi kata yang mengekspresikan apa yang terjadi di hidupku saat ini. Perasaan yang menghampiri detik demi detik. Perjuangan batin yang terjadi setiap waktu.
Tapi aku tak mampu. Aku takut.
Aku takut terlihat lemah. Takut memberi kekecewaan. Takut menghadirkan sedih. Takut menghilangkan asa. Takut dan takut lagi!
Gelombang ketakutan telah menghantarkanku kemari. Sebuat tempat yang tak ada di peta keberangkatanku.
Hingga aku takut untuk memilih. Karena aku tak tahu. Sudah tak tahu lagi apa yang harus kutuju.
Dan kini aku takut tak mampu bertahan lagi. Aku telah menjadi lemah.
Bisakah?
Bayanganmu terlihat
Lalu melukiskan
Lihatlah dirimu
Sekelilingmu
Seakan menunjukkan
Itulah kamu
Bukan
Bukan itu dirimu
Mereka tidak tahu
Dan mungkin tidak pernah tahu
Dari kedalaman hati dan pikiran
Berteriaklah
Inilah Aku!
Bisakah kamu berjuang?
***
6 Maret 2004, 2.12 PM
“ I want to reconcile the violence in your heart
I want to recognize your beauty’s not just a mask,
I want to exorcise the demons from your past,
I want to satisfy the undisclosed desires in your heart
“Undisclosed Desires” by Muse. From The Resistance album.

